-->

Notification

×

Iklan

Iklan 728x90

Indeks Berita

Sunyi Kekuasaan Jawa: Ketika Wibawa Lahir dari Keheningan

Jumat, 05 Juni 2026 | 12.19.00 WIB Last Updated 2026-06-05T05:24:24Z


SURABAYA, tretan.orgSebuah unggahan sederhana di media sosial berbunyi, “Orang Jawa tidak merebut kekuasaan dengan suara keras.” Kalimat itu tampak ringan, sekilas seperti pepatah lama yang lewat tanpa jejak.


Namun bagi sebagian orang yang akrab dengan lapisan budaya Jawa, kalimat itu tidak berhenti sebagai ungkapan. Ia seperti pintu kecil menuju ruang yang lebih dalam—ruang di mana kekuasaan tidak dipahami sebagai perebutan, tetapi sebagai kehadiran yang lahir dari keheningan.


Di tengah dunia yang makin bising oleh klaim, debat, dan suara yang saling menumpuk, gagasan itu terasa seperti jeda panjang yang mengajak orang berhenti sejenak.


Kekuasaan yang Tidak Diperebutkan, tetapi “Ditempuh”


Dalam perspektif budaya Jawa, kekuasaan tidak selalu dipahami sebagai sesuatu yang direbut. Ia dipandang sebagai energi yang hadir, mengalir, dan mencari wadah yang tepat.


Pandangan ini pernah dibahas dalam kajian Benedict Anderson melalui esai “The Idea of Power in Javanese Culture”. Di sana, kekuasaan digambarkan bukan sebagai sesuatu yang terbatas seperti “kue yang diperebutkan”, melainkan sebagai daya kosmis yang bisa terkonsentrasi atau berpindah.


Dalam logika ini, seorang pemimpin tidak sekadar naik karena kemenangan politik. Ia dianggap “layak” ketika batinnya siap menjadi ruang bagi kekuasaan itu sendiri.Di titik ini, suara keras justru dianggap bukan tanda kekuatan, tetapi kegelisahan.


Sunyi sebagai Laku, Bukan Sekadar Diam


Dalam tradisi Jawa, keheningan bukan berarti tidak melakukan apa-apa. Justru di sanalah proses paling aktif terjadi—di dalam batin.


Laku seperti tapa brata, semedi, hingga laku prihatin menjadi bagian dari proses penyelarasan diri. Menahan ucapan, menyederhanakan kebutuhan, dan mengendalikan ego dipandang sebagai cara untuk menata ruang batin.


“Mulut yang terlalu banyak berbicara dianggap bisa menghamburkan daya,” demikian salah satu cara pandang yang hidup dalam tradisi itu. Karena itu, diam bukan kekosongan, melainkan bentuk pengendalian diri.


Dalam bahasa spiritual Jawa, keadaan ini sering disebut sebagai usaha ngempet hawa dan ngeningke cipta—menjernihkan pikiran agar tidak keruh oleh ambisi.


Wahyu, Tanda, dan Lahirnya Wibawa


Banyak kisah dalam tradisi babad Jawa menggambarkan bagaimana kekuasaan tidak hadir di tengah keramaian, melainkan dalam kesunyian.


Salah satu yang kerap dikisahkan adalah perjalanan Panembahan Senapati yang bertapa di laut selatan sebelum berdirinya Mataram. Dalam narasi tradisional, dari keheningan itu ia memperoleh legitimasi spiritual yang disebut wahyu kedaton.


Terlepas dari makna historis atau simboliknya, kisah ini menunjukkan satu hal: kekuasaan dalam budaya Jawa sering kali dikaitkan dengan proses batin, bukan sekadar proses politik.


Dalam konteks ini, diam bukan kelemahan. Diam adalah ruang mendengar tanda.


Harmoni Sosial dan Etika Berbicara


Dari cara pandang tersebut lahir nilai sosial seperti rukun dan tentrem. Keduanya menekankan keseimbangan dalam kehidupan bersama.


Suara keras, dalam banyak situasi, dianggap dapat mengganggu harmoni itu. Bukan hanya karena bunyinya, tetapi karena potensi konflik yang bisa ditimbulkannya.


Karena itu, komunikasi dalam budaya Jawa sering berkembang dalam bentuk halus—melalui kiasan, sindiran, atau bahasa tidak langsung.


“Wong Jawa iku nggone rasa, dudu nggone omong,” begitu ungkapan yang sering dikutip. Orang Jawa dipandang lebih mengutamakan rasa dibanding sekadar kata.


Alon-Alon dan Seni Menunggu yang Aktif


Falsafah alon-alon waton kelakon sering disalahpahami sebagai sikap pasif. Padahal dalam banyak tafsir budaya, ia justru mengandung disiplin kesabaran dan ketekunan.Seorang petani, misalnya, tidak hanya menunggu panen. Ia merawat, membersihkan, dan menjaga proses itu setiap hari tanpa banyak suara.


Begitu pula dalam konteks kekuasaan, proses dianggap tidak bisa dipaksa. Ia memiliki ritme sendiri yang harus dihormati.


Paradoks Sunyi: Antara Wibawa dan Risiko


Namun keheningan dalam kekuasaan tidak selalu tanpa risiko. Dalam praktik sosial, budaya diam kadang membuka ruang bagi ketimpangan yang tidak terlihat.


Ketika kritik tidak disuarakan secara terbuka, konflik bisa berpindah bentuk—dari ruang publik ke ruang tersembunyi. Dari perdebatan menjadi bisik-bisik, dari dialog menjadi jarak.Di titik ini, kehalusan bisa menjadi kekuatan sekaligus jebakan.


Karena itu, penting membedakan antara sunyi sebagai kesadaran dan diam karena ketakutan. Keduanya tampak serupa, tetapi lahir dari ruang batin yang berbeda.


Relevansi di Tengah Dunia yang Semakin Bising


Di era digital, suara yang paling keras sering kali yang paling terdengar. Algoritma media sosial memberi panggung pada yang paling sensasional, bukan selalu yang paling bijak.


Dalam situasi ini, gagasan tentang kekuasaan yang lahir dari keheningan terasa kontras, bahkan melawan arus.


Namun bukan berarti ia tidak relevan. Justru di tengah kebisingan itulah, keheningan menjadi nilai yang semakin langka.


Ia mengingatkan bahwa pengaruh tidak selalu lahir dari teriakan. Kadang ia tumbuh dari konsistensi, keteduhan, dan kemampuan membaca situasi tanpa banyak kata.


Penutup: Kekuasaan yang Tidak Perlu Diteriakkan


Pada akhirnya, gagasan bahwa “orang Jawa tidak merebut kekuasaan dengan suara keras” bukan sekadar ungkapan budaya. Ia adalah cara lain untuk memahami bagaimana manusia berhubungan dengan kuasa, diri, dan kesunyian.


Di baliknya tersimpan pertanyaan yang lebih personal: apakah kita masih mengandalkan suara untuk diakui, atau sudah belajar membangun wibawa dari dalam diri?


Sebab dalam banyak tradisi, termasuk Jawa, kekuatan yang paling bertahan lama bukanlah yang paling keras terdengar. Tetapi yang paling tenang, paling dalam, dan paling tidak perlu membuktikan dirinya.


Oleh: Tri Prakoso, SH.,M.HP.

(Alumni FH Universitas Jember)

Editor : Tretan.org

×
Berita Terbaru Update