-->

Notification

×

Iklan

Iklan 728x90

Indeks Berita

Di Tengah Dunia yang Gelisah, Seni Menghidupkan Kembali Pesan “Perjuangan Belum Selesai”

Sabtu, 13 Juni 2026 | 02.35.00 WIB Last Updated 2026-06-17T07:06:42Z


Surabaya, Tretan.Org - Sebuah kalimat sederhana kembali menemukan maknanya di tengah zaman yang penuh perubahan: “Perjuangan belum selesai.”


Kalimat yang pernah menjadi pesan penting Bung Karno itu tidak hanya berbicara tentang masa lalu, tetapi juga tentang perjalanan bangsa yang terus bergerak menghadapi berbagai tantangan.


Kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 menjadi tonggak sejarah besar. 


Namun perjalanan menuju keadilan sosial, kedaulatan ekonomi, kebudayaan yang bermartabat, serta kehidupan masyarakat yang lebih manusiawi masih menjadi proses panjang.


Gagasan itulah yang menjadi napas dalam pameran seni bertajuk “Vivere Pericoloso: Waktu Penuh Nestapa.”


Pameran ini menghadirkan ruang perenungan tentang bagaimana bangsa menghadapi zaman penuh ketidakpastian. 


Sebuah zaman yang ditandai oleh konflik global, perubahan ekonomi, persoalan lingkungan, perkembangan teknologi, hingga tantangan menjaga solidaritas sosial.


Ketua Dewan Kesenian Surabaya, Chrisman Hadi, dalam catatan kuratorialnya menjelaskan bahwa istilah Vivere Pericoloso yang diperkenalkan Bung Karno pada pidato kenegaraan tahun 1964 bukan sekadar tentang hidup dalam bahaya.


Lebih dari itu, istilah tersebut menggambarkan keberanian manusia menghadapi kenyataan sejarah yang penuh risiko dan pergulatan.


Sepuluh Seniman, Sepuluh Cara Membaca Indonesia


Melalui karya-karya mereka, sepuluh seniman mencoba membaca ulang hubungan antara sejarah, rakyat, kepemimpinan, dan harapan.


Setiap karya menghadirkan sudut pandang berbeda tentang Indonesia dan perjalanan panjang bangsanya.


Karya “Doa Ibu” dari Ketut Widiastra menghadirkan sosok perempuan renta yang memandang penuh harap.


Figur ibu dalam karya tersebut menjadi simbol doa-doa sunyi yang selama ini ikut menjaga perjalanan bangsa. Sejarah, dalam karya ini, tidak hanya dibangun oleh tokoh besar, tetapi juga oleh keteguhan orang-orang biasa.


Sementara itu, karya “JAS Merah” dari Desemba Titaheluw menghadirkan pesan tentang pentingnya menjaga ingatan sejarah.


Jas merah yang tampil tanpa tubuh menjadi simbol kehadiran sekaligus kekosongan. Sebuah pengingat terhadap pesan Bung Karno: jangan sekali-kali meninggalkan sejarah.


Bung Karno Sebagai Gagasan dan Manusia


Berbeda dengan karya yang berbicara tentang sejarah secara simbolik, “Ngopi Dulu Bung” karya Shodiq Indo menghadirkan suasana yang lebih reflektif.


Dalam karya tersebut, Bung Karno digambarkan duduk santai di bawah pohon besar. Suasana itu membawa penonton pada ruang perenungan, seolah mengajak masyarakat berhenti sejenak dari hiruk-pikuk perdebatan dan kegaduhan informasi.


Kadang, perubahan besar juga membutuhkan waktu untuk berpikir.


Sementara karya “Non Blok” dari Sentot Usdek membawa penonton pada gagasan politik bebas aktif yang pernah menjadi salah satu warisan penting Bung Karno.


Di tengah dunia yang kembali menghadapi ketegangan antarnegara, karya ini mengingatkan bahwa kemerdekaan juga berarti kemampuan menentukan arah sendiri.


Melihat Tokoh Besar dari Sisi Kemanusiaannya


Karya “Lanange Jagat” dari Didik Hari Shin menghadirkan Bung Karno melalui sisi yang lebih personal.


Api korek dan kepulan asap menjadi simbol semangat yang terus menyala. Kehadiran Fatmawati serta jejak perempuan dalam perjalanan hidup Bung Karno memperlihatkan bahwa seorang tokoh sejarah juga memiliki sisi manusiawi.


Di balik pidato besar dan panggung politik dunia, terdapat manusia dengan rasa, konflik batin, kerinduan, dan perjalanan hidup.


Sejarah menjadi lebih dekat ketika tokoh-tokohnya tidak hanya dipandang sebagai simbol, tetapi juga sebagai manusia.


Seni Membaca Realitas Zaman


Karya “Red In Love” dari Bagas Karunia Putra membawa penonton pada pendekatan eksperimental.


Perpaduan berbagai bentuk, warna, dan elemen visual menghadirkan gambaran kehidupan modern yang terus berubah.


Karya ini berbicara tentang dunia yang semakin terhubung, tetapi juga penuh benturan.


Sementara itu, “Dialog Kebangsaan” karya Dodik Hartono mempertemukan simbol Semar dengan Bung Karno.


Pertemuan tersebut menjadi gambaran percakapan antara suara rakyat dan cita-cita besar bangsa.


Semar sebagai representasi kebijaksanaan rakyat dipertemukan dengan Bung Karno sebagai figur pemimpin dan pemikir kebangsaan.


Dari Dinding Rumah Hingga Perjuangan Rakyat Kecil


Karya “Jejak Semangat Sang Proklamator” dari Erwin Budianta mengambil inspirasi dari hal sederhana: kebiasaan memperbarui warna tembok menjelang Idul Fitri.


Namun di balik aktivitas sehari-hari itu terdapat simbol tentang memperbaiki diri. Dinding yang kusam diperbarui. Retakan diperbaiki. Warna baru diberikan. Sebuah gambaran bahwa bangsa juga terus berusaha memperbaiki dirinya.


Sementara “Marhaen: Saat Cangkul Menjadi Kapal” karya Andi Prayitno menghadirkan kembali gagasan tentang rakyat kecil sebagai kekuatan utama bangsa.


Cangkul yang berubah menjadi kapal menjadi simbol harapan. Petani, nelayan, buruh, dan masyarakat biasa digambarkan bukan sebagai kelompok yang pasif, tetapi sebagai penggerak perjalanan masa depan.


Ketika Kritik Sosial Bertemu Harapan


Sebagai penutup, karya “Ejakulasi Akal-Akalan” dari Asri Nugroho menghadirkan suasana yang lebih getir.


Pohon tua besar berdiri dalam suasana muram. Sebuah papan sederhana yang berisi ajakan makan mi instan menjadi simbol kritik terhadap realitas sosial-ekonomi.


Karya tersebut mengajak penonton melihat kembali persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat: tekanan ekonomi, perubahan dunia, dan dampaknya terhadap rakyat kecil.


Namun pameran ini bukan sekadar tentang nestapa. Ia justru berbicara tentang bagaimana manusia bertahan.


Perjuangan yang Terus Berjalan


Melalui “Vivere Pericoloso”, para seniman seperti mengajak masyarakat melihat kembali perjalanan bangsa dari berbagai sudut.


Ada doa seorang ibu.

Ada sejarah yang harus dijaga.

Ada rakyat yang terus bekerja.

Ada harapan yang tetap tumbuh.


Pesan yang muncul bukan tentang menyerah terhadap keadaan, melainkan tentang keberanian menghadapi zaman yang terus berubah.


Seperti bait puisi Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono:


"Tak ada yang lebih tabah
Dari hujan bulan Juni."


Ketabahan itulah yang menjadi benang merah pameran ini.


Di tengah dunia yang bergerak cepat, konflik yang kembali muncul, dan perubahan yang sulit diprediksi, seni menjadi ruang untuk bertanya:


Apakah semangat menghadapi zaman penuh risiko masih hidup dalam diri kita?


Sebab sejarah, pada akhirnya, bukan hanya catatan masa lalu. Sejarah adalah perjalanan manusia yang terus memilih untuk berjalan.


Oleh : Chrisman  Hadi

Ketua Dewan Kesenian Surabaya

Tidak ada komentar:

×
Berita Terbaru Update