JOMBANG, tretan.org — Hiruk-pikuk ribuan warga nahdliyin memadati kawasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang. Suasana Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 terasa begitu hidup.
Di salah satu sudut keramaian itu, sekelompok relawan sibuk mendirikan tenda. Peluh membasahi seragam mereka, namun senyum ramah tak pernah lepas menyapa para pejalan kaki.
Mereka adalah anggota MADAS Sedarah DPC Gresik. Berbekal semangat gotong royong, para relawan ini rela datang lebih awal sejak Selasa (25/8/2026) lalu.
Kehadiran mereka bukan sekadar untuk meramaikan barisan penggembira muktamar. Lebih dari itu, mereka datang untuk melayani.
Membangun Tenda, Merawat Kemanusiaan
Ketua MADAS Sedarah DPC Gresik, H. Mohammad Salim, S.Ag., turun langsung memimpin barisan relawan. Matanya menyiratkan kebanggaan melihat anggotanya bahu-membahu.
Salim menegaskan, organisasinya ingin mengambil peran nyata. Ia menolak jika kehadiran mereka di Tambakberas sekadar menjadi penonton panggung sejarah NU.
"Kami ingin memberikan pelayanan dan membantu masyarakat yang hadir dalam Muktamar NU ke-35," ujar Mohammad Salim.
Di bawah tenda yang mereka bawa jauh dari Gresik, relawan menyajikan ribuan porsi makanan ringan dan minuman. Semuanya gratis.
Fasilitas logistik ini seolah menjadi oase kecil bagi para muktamirin dan warga sekitar yang kelelahan menembus padatnya lautan manusia.
Siaga 24 Jam di Tengah Lautan Manusia
Selain tenda logistik, sebuah ambulans bersiaga penuh di lokasi. Lampu rotatornya menjadi simbol kesiapsiagaan medis di tengah keramaian.
Tim relawan medis MADAS Sedarah menyiagakan armada ini selama 24 jam penuh. Mereka mengawal acara sejak 27 hingga 30 Agustus 2026 tanpa jeda.
Ambulans ini bebas diakses oleh siapa saja. Baik peserta muktamar maupun masyarakat lokal yang membutuhkan evakuasi medis darurat.
“Ini sebagai bentuk dukungan tulus MADAS Sedarah DPC Gresik kepada masyarakat dan peserta yang membutuhkan bantuan,” tegas Salim.
Hadir Lewat Aksi Nyata
Aksi solidaritas ini menyedot simpati banyak pihak. Relawan dari berbagai daerah jaringan MADAS turut bergabung, mempertebal barisan pelayanan kemanusiaan di Jombang.
Bagi Salim, pergerakan ini adalah pembuktian jati diri organisasi. Sebuah organisasi harus hidup di tengah masyarakat, memeluk kepedulian lewat aksi nyata.
“Kami ingin MADAS Sedarah hadir bukan hanya sebagai nama organisasi, tetapi benar-benar hadir dan memberikan manfaat langsung,” ungkapnya penuh harap.
Ketika panggung Muktamar NU ke-35 usai dan hiruk-pikuk mereda, tenda relawan ini mungkin akan dibongkar. Namun, jejak peluh dan keikhlasan melayani dari kawan-kawan MADAS Sedarah akan terus membekas di hati para nahdliyin.
Kontributor: Syaiful

Tidak ada komentar:
Posting Komentar