SURABAYA, tretan.org - Ada satu tradisi yang tampaknya hanya bisa tumbuh subur di negeri yang gemar membuat drama sebelum membuat perubahan.
Namanya bukan demonstrasi.
Bukan pula silaturahmi.
Melainkan demonstrasi yang berakhir dengan tiupan lilin dan potong kue.
Bayangkan.
Pagi-pagi aparat sudah memasang wajah serius. Helm terpasang. Barikade disiapkan. Komunikasi radio terdengar sibuk. Semua mengira akan ada gelombang aspirasi yang datang membawa kritik.
Ternyata...
Yang keluar bukan tuntutan.
Melainkan kue tart bertuliskan, "Dirgahayu Bhayangkara."
Lalu lagu ulang tahun dinyanyikan.
Ketegangan berubah menjadi tepuk tangan.
Drama selesai.
Penonton pulang.
Konten media sosial pun lahir.
Mungkin inilah inovasi demokrasi paling kreatif abad ini: demo yang sejak awal sudah tahu akan berakhir dengan sesi foto bersama.
Padahal, kritik tidak pernah membutuhkan kejutan.
Ia hanya membutuhkan keberanian.
Yang lucu justru ketika panggung lebih sibuk mengurus angle kamera daripada substansi penghormatan.
Kita seolah hidup di zaman ketika yang terpenting bukan lagi niat memberi ucapan selamat, tetapi bagaimana ucapan itu bisa viral sebelum kuenya mengering.
Ironisnya, semua tampak bahagia.
Yang memberi merasa eksis.
Yang menerima merasa dihormati.
Yang menonton mendapat hiburan.
Sementara publik hanya bisa bertanya dalam hati, "Ini sedang latihan pengamanan atau latihan membuat konten?"
Padahal penghormatan sejati tidak membutuhkan skenario.
Ia datang dengan sederhana.
Datang.
Mengucapkan selamat.
Berjabat tangan.
Selesai.
Tidak perlu berpura-pura menjadi massa yang marah agar lima menit kemudian berubah menjadi paduan suara ulang tahun.
Karena kebohongan, sekecil apa pun kemasannya, tetaplah kebohongan.
Meski dibungkus pita emas.
Meski dihiasi krim cokelat.
Meski dipotong bersama-sama.
Hubungan baik antara masyarakat dan aparat memang penting.
Sinergi antarlembaga juga layak dirawat.
Namun sinergi tidak boleh berubah menjadi sandiwara yang membuat publik sulit membedakan mana kritik, mana seremoni, dan mana sekadar panggung pencitraan.
Sebab ketika demonstrasi bisa disewa oleh naskah, dan kejutan lebih dipercaya daripada kejujuran, yang perlahan hilang bukan hanya rasa malu.
Melainkan juga makna.
Barangkali, pada Hari Bhayangkara berikutnya, kita tidak perlu lagi membawa drama.
Cukup membawa doa.
Karena doa tidak membutuhkan setting.
Dan integritas tidak pernah lahir dari sebuah prank.
Oleh: Eko Gagak
Editor : Redaksi TRETAN.Org

Tidak ada komentar:
Posting Komentar