SURABAYA, tretan.org - Suatu hari nanti, jangan kaget jika seorang cucu bertanya pada neneknya di Surabaya dengan bahasa Mandarin yang fasih, "Nenek, tulisan berlekuk-lekuk di museum ini artinya apa?"
Lalu sang nenek hanya bisa menggeleng pelan, sebab ia pun lebih lancar membaca menu restoran berhuruf asing dibanding mengeja carakan di tanah kelahirannya sendiri.
Pemandangan ironis itulah yang diam-diam membayang di Galeri Prabangkara, Komplek UPT Taman Budaya Jawa Timur, Jalan Genteng Kali, Surabaya, pada Kamis (23/7/2026).
Di tengah bisingnya Kota Pahlawan, digelar Peluncuran dan Pameran Kartu Aksara Jawa bertajuk "Merawat Warisan, Menghidupkan Aksara, Membangun Peradaban".
Acara yang digagas oleh pegiat budaya dan pencipta kartu aksara jawa Taufik Hidayat, S.Pd., dibuka dan diresmikan oleh Ketua Komisi E DPRD Jatim, Dr. Dra. Sri Untari Bisowarno, M.A.P., ini seolah menjadi "cermin besar" yang disodorkan tepat di depan muka kita.
Ketika Lidah Lokal 'Kelu' Mengeja di Rumah Sendiri
Kita hidup di zaman yang mengagumkan. Anak-anak muda hari ini begitu tangkas menghafal kosakata dari negeri-negeri jauh.
Lidah mereka amat lentur mengucap bahasa dari Asia Timur, Eropa, hingga Timur Tengah. Namun, anehnya, lidah yang sama mendadak kaku dan kelu saat dihadapkan pada huruf Ha-Na-Cha-Ra-Ka.
Seolah-olah, ada kesepakatan tidak tertulis bahwa menjadi modern berarti harus menanggalkan identitas lokal.
Kita bangga ketika dipuji mirip warga luar negeri, tetapi merasa kuno jika tertangkap basah menyukai tradisi sendiri.
Padahal, Sri Untari mengingatkan, kekayaan bahasa lokal adalah bukti otentik bahwa leluhur kita tidak lahir dari peradaban yang dangkal.
Bahasa Jawa, misalnya, punya puluhan cara spesifik untuk menggambarkan satu peristiwa sederhana, sebuah ketelitian bahasa yang jarang dimiliki bangsa lain.
"Ini adalah salah satu bukti bahwa kita adalah bangsa yang memiliki peradaban tinggi karena bahasanya begitu kaya dan beranekaragam," tutur Sri Untari.
Tetapi, apa gunanya peradaban tinggi jika keturunannya lebih memilih berteduh di bawah ketiak budaya bangsa lain?
Membeli Kembali Ingatan yang Terjual
Kartu Aksara Jawa yang dipamerkan hari itu sebenarnya adalah upaya menyuntikkan kembali "kesadaran" yang sempat mati suri. Pameran ini bukan sekadar nostalgia orang-orang tua, melainkan peringatan dini.
Sebab, bangsa yang kehilangan aksaranya adalah bangsa yang kehilangan ingatan. Ketika sebuah generasi tidak lagi mampu membaca catatan sejarahnya sendiri, mereka akan dengan mudah didikte oleh siapapun yang memegang pena.
Kita akan sibuk berkiblat ke negeri orang, menjadi penonton yang bersorak bagi kebudayaan asing, sembari mengemis pengakuan di rumah sendiri.
Melalui gerakan yang didorong hingga ke sekolah-sekolah di Jawa Timur ini, ada satu harapan sunyi yang diselipkan: agar generasi mendatang tidak perlu menyewa penerjemah asing hanya untuk membaca prasasti peninggalan kakek buyut mereka sendiri.
Sebelum semuanya terlambat, dan sebelum kita benar-benar menjadi turis di tanah kelahiran sendiri, mari mengeja kembali siapa diri kita sebenarnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar