-->

Notification

×

Iklan

Iklan 728x90

Indeks Berita

Dibalik Euforia Piala Dunia: Ancaman Judi Bola Bagi Masyarakat Kecil

Selasa, 30 Juni 2026 | 16.12.00 WIB Last Updated 2026-06-30T18:38:10Z



SURABAYA, tretan.org — Sorak-sorai euforia Piala Dunia menggema hampir di setiap sudut warung kopi Surabaya, Selasa (30/6/2026). 


Di depan layar kaca, ketegangan dan tawa berpadu merayakan pesta sepak bola sejagat. Namun, di balik keriuhan dan asap rokok yang mengepul, sebuah ironi tengah mengintai masyarakat kecil.

Kenyataan di luar lapangan hijau tidak seindah permainan bola. Harga kebutuhan pokok yang terus merangkak naik membuat napas perekonomian warga kian berat. 


Ironisnya, di tengah himpitan hidup tersebut, sebagian orang justru mencari pelarian lewat jalan pintas yang menyesatkan: judi bola.

Praktik taruhan ini merayap diam-diam, menjerat berbagai kalangan, dan menebar ilusi kekayaan instan.

Eko Gagak, seorang tokoh masyarakat setempat, menatap fenomena ini dengan raut penuh keprihatinan. Ia melihat langsung bagaimana euforia olahraga berubah menjadi arena pertaruhan nasib yang berbahaya.

"Orang-orang bertaruh dengan uang belanja, bahkan uang yang seharusnya untuk makan anak istri," ungkap Eko.


Jalan Pintas Menuju Jeruji Besi


​Judi tidak pernah benar-benar menjanjikan kemenangan. Eko mengingatkan, saat modal ludes dan utang menumpuk, keputusasaan mulai mengambil alih akal sehat.

Dalam kondisi terdesak, para pecandu judi kerap kehilangan arah. Mereka nekat menerabas batas hukum demi membalikkan keadaan atau sekadar menutupi kekalahan. 


Kasus pencurian, penipuan, hingga tindak kriminalitas lain menjadi ancaman nyata yang lahir dari meja taruhan.


​Bukannya membawa pulang keuntungan, jalan pintas ini justru mengantarkan para pelakunya langsung ke balik jeruji besi.


​"Ketika seseorang kehabisan uang dan terpepet, nalar logisnya mati. Mereka menghalalkan segala cara," tutur Eko. 


"Dan jika sudah berurusan dengan hukum, yang rugi bukan hanya dirinya sendiri, tetapi seluruh keluarga."


Kehancuran Berawal dari Meja Taruhan


​Dampak paling menyayat hati dari candu judi bola selalu jatuh pada keluarga. Uang yang hilang mungkin bisa dicari lagi, tetapi kepercayaan dan keharmonisan yang hancur sangat sulit diperbaiki.


​Eko menyoroti penderitaan senyap yang harus ditanggung para istri dan anak-anak di rumah. Masa depan yang seharusnya dibangun dengan peluh keringat kerja keras, sirna begitu saja di tangan bandar.


​"Pada akhirnya, perjudian tidak hanya membuat seseorang kehilangan harta," tegasnya. 

 

"Judi menyeret keluarga ke jurang kemiskinan, menghancurkan harmoni rumah tangga, dan merampas masa depan anak-anak kita."


​Tokoh masyarakat ini pun menyitir pesan klasik dari legenda musik Tanah Air, Rhoma Irama, yang menurutnya masih sangat relevan hingga hari ini.


​"Benar kata Rhoma Irama, judi meracuni pikiran. Jangan sampai karena mengejar angan-angan sesaat, kita malah kehilangan keluarga, kebebasan, dan segalanya," pesannya lirih namun tegas.


Menanti Ketegasan Aparat


​Masyarakat tentu tidak bisa bergerak sendirian. Eko menaruh harapan besar pada pundak pemerintah dan aparat penegak hukum.


​Edukasi yang tak kenal lelah hingga penindakan tegas di lapangan menjadi kunci utama. Aparat harus menyapu bersih praktik perjudian dari akar hingga ke bandarnya, tanpa pandang bulu.


​Piala Dunia sejatinya adalah panggung perayaan sportivitas, bukan ladang pembantaian ekonomi keluarga. 


Jangan biarkan peluit panjang di layar kaca menjadi penanda hancurnya periuk nasi di rumah-rumah warga.


Penulis : Oem Dhenk

Editor : tretan.org

Tidak ada komentar:

×
Berita Terbaru Update