SURABAYA, tretan.org — Di tengah aroma sate yang dibakar dan kuah gule sumsum yang mengepul di Sentra Wisata Kuliner (SWK) Dharmahusada, Surabaya, Drs. H. Supriono menjalani rutinitas yang sudah akrab sejak puluhan tahun lalu.
Meski dikenal sebagai pengusaha kuliner sekaligus Dewan Penasehat Serikat Pedagang Kaki Lima (SPEKAL), Supriono tetap turun langsung mengurus usaha yang membesarkan namanya.
Baginya, perjalanan membangun usaha tidak hanya berbicara soal modal dan keuntungan. Ada kebiasaan-kebiasaan kecil yang sering kali justru menjadi penghambat langkah pelaku usaha untuk berkembang.
Berdasarkan pengalaman pribadinya, Supriono menyebut ada enam hal yang perlu dihindari oleh pelaku usaha kecil, yakni mental ingin cepat kaya, gengsi berlebihan, malas belajar, takut mengambil risiko, mencampur uang pribadi dengan uang usaha, serta mudah menyerah ketika menghadapi kegagalan.
"Dulu waktu awal jualan sate di sini, saya juga pernah berpikir kapan bisa dapat untung besar. Tapi usaha kuliner itu prosesnya bertahap. Yang penting pelanggan datang, kemudian kembali lagi. Dari situ usaha bisa tumbuh," ujar Supriono.
Gengsi Bisa Membuat Pelaku Usaha Berhenti Berkembang
Menurut Supriono, salah satu hambatan terbesar dalam menjalankan usaha adalah rasa gengsi.
Ia melihat sebagian pelaku usaha terkadang ingin langsung berada di posisi sebagai pemilik tanpa memahami proses panjang di lapangan.
"Saya sendiri masih potong daging, masih racik bumbu sampai sekarang. Kalau usaha kuliner, ya harus siap turun tangan. Jangan hanya ingin terlihat sebagai bos," katanya.
Bagi Supriono, proses langsung di lapangan membuat seorang pengusaha memahami detail usaha, mulai dari kualitas produk hingga kebutuhan pelanggan.
Usaha Harus Berjalan Bersama Kemauan Belajar
Perubahan zaman juga membuat cara berjualan ikut berubah. Supriono mengingatkan pedagang agar tidak merasa cukup hanya dengan mengandalkan pengalaman lama.
Ia menyebut pelaku usaha perlu terus memperbarui pengetahuan, mulai dari menjaga rasa, kebersihan, hingga mengikuti perkembangan pemasaran digital.
"Saya sering sampaikan kepada anggota, jangan merasa resep sudah paling baik lalu berhenti belajar. Selera pelanggan berubah, cara promosi juga berubah," jelasnya.
Berani Mengambil Risiko dengan Perhitungan
Perjalanan Supriono membangun usaha juga tidak selalu berjalan mulus. Saat memutuskan pindah ke SWK Dharmahusada, ia mengaku sempat menghadapi keraguan.
Kekhawatiran terhadap kemungkinan sepinya pembeli sempat muncul. Namun, ia memilih menghitung risiko sebelum mengambil keputusan.
"Waktu pindah ke SWK Dharmahusada saya juga sempat ragu, takut pelanggan berkurang. Tapi kalau terus takut, kapan bisa maju. Selama risikonya masih bisa dihitung dan ditanggung, harus berani mencoba," ujarnya.
Disiplin Mengelola Keuangan Usaha
Selain mental dan keberanian, Supriono menilai pengelolaan keuangan menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan usaha.
Ia mengingatkan pedagang agar tidak mencampur uang hasil jualan dengan kebutuhan pribadi.
"Ini sering terjadi. Uang usaha bercampur dengan kebutuhan rumah, akhirnya modal berkurang tanpa terasa. Saya pisahkan, ada kas usaha sendiri," tuturnya.
Menurut dia, kebiasaan sederhana itu membantu pelaku usaha mengetahui kondisi sebenarnya dari bisnis yang dijalankan.
Kegagalan Bukan Akhir Perjalanan
Setelah puluhan tahun menjalankan usaha sate dan gule sumsum, Supriono mengaku pernah menghadapi masa sulit, termasuk ketika dagangan tidak selalu habis.
Namun, ia memilih menjadikan kondisi tersebut sebagai bahan evaluasi.
"Selama jualan, pasti pernah sepi. Tapi jangan langsung menyerah. Harus dicari tahu apa yang kurang, lalu diperbaiki," katanya.
Di tengah persaingan usaha kuliner yang semakin ketat, Supriono percaya keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh produk yang enak, tetapi juga oleh ketekunan, disiplin, dan kemampuan beradaptasi.
Sebab bagi dirinya, usaha bukan sekadar mencari keuntungan, melainkan perjalanan panjang yang membutuhkan kesabaran dan kemauan untuk terus belajar.
Penulis : Oem Dhenk
Editor : tretan.org

Tidak ada komentar:
Posting Komentar