SURABAYA, tretan.org – Sinar matahari siang itu terasa menyengat saat Arif Lila Wijanarka melangkah masuk ke lorong sempit di kawasan Jalan Lebak Timur Asri Buntu, Kelurahan Gading, Kecamatan Tambaksari.
Pria yang akrab disapa Abah Lila ini tidak sedang melakukan kunjungan formal biasa. Staf Khusus Anggota Komisi X DPR RI, Reni Astuti, ini tengah membawa misi kemanusiaan.
Langkah kakinya berhenti di depan sebuah rumah sederhana bernomor 26. Di sana, realita pahit kehidupan tersaji nyata.
Menyigi Realita dari Laporan BPS
Kunjungan ini bukanlah tanpa alasan. Abah Lila bergerak cepat setelah menerima data dari petugas Survei Sensus Ekonomi Badan Pusat Statistik (BPS).
Data tersebut memotret kondisi sebuah keluarga yang luput dari jangkauan bantuan, memicu urgensi bagi tim untuk segera turun tangan.
Di dalam rumah tersebut, Bapak Suharto menyambut dengan sisa-sisa semangat. Ia sendiri merupakan penyintas stroke yang masih berjuang untuk pulih.
Namun, beban hidupnya terasa dua kali lebih berat saat melihat sang istri tercinta yang terduduk lemas.
Istri Bapak Suharto mengalami kelumpuhan pada kedua kakinya. Keterbatasan fisik itu membuat ruang gerak sang istri terbelenggu di dalam rumah, menanti bantuan kursi roda yang selama ini hanya menjadi angan.
Sinergi untuk Keadilan Sosial
"Kondisi mereka menuntut kehadiran negara. Kita tidak bisa hanya diam melihat warga kita berjuang sendirian di tengah keterbatasan fisik dan ekonomi," ujar Abah Lila saat berbincang dengan keluarga tersebut, Minggu (29/6/2026).
Selama proses asesmen, Abah Lila mencatat dengan saksama setiap kendala yang dihadapi keluarga Suharto.
Ia melihat langsung bagaimana keterbatasan akses kesehatan dan ekonomi saling berkelindan, menciptakan jerat yang sulit dilepaskan tanpa intervensi pihak luar.
Abah Lila menegaskan, kunjungan ini merupakan langkah awal untuk mengoordinasikan bantuan lintas sektor.
Ia berkomitmen untuk memastikan keluarga Bapak Suharto mendapatkan hak-hak dasar yang layak, mulai dari alat bantu mobilitas hingga pemutakhiran data penerima bantuan sosial.
Mengetuk Pintu Kemanusiaan
Bagi Abah Lila, angka-angka dalam laporan BPS bukanlah sekadar statistik. Di balik setiap data, terdapat napas, harapan, dan peluh perjuangan warga yang menunggu uluran tangan.
"Kami hadir bukan hanya untuk mendata, tapi untuk memastikan kebijakan pemerintah menyentuh mereka yang paling membutuhkan.
Sinergi antara pemerintah kota dan seluruh elemen masyarakat adalah kunci agar tidak ada lagi warga yang merasa ditinggalkan," tambahnya.
Langkah kaki Abah Lila meninggalkan gang di Tambaksari sore itu membawa serta secercah harapan bagi keluarga Bapak Suharto.
Kini, perhatian publik dan pemerintah tertuju ke sana, menanti realisasi nyata agar kursi roda dan akses pemulihan kesehatan segera sampai ke tangan mereka yang berhak.
Sebab, kemanusiaan sejatinya tidak pernah mengenal jarak, apalagi batas administratif. Di balik tembok-tembok rumah yang rapuh, ada nyawa yang sedang menanti keajaiban untuk kembali tegak berdiri.
Penulis : Oem Dhenk
Editor : tretan.org

Tidak ada komentar:
Posting Komentar