SURABAYA, tretan.org — Di era ketika manusia modern bisa mengalami sakau digital hanya karena kuota habis lima menit, sekelompok Santri Sememi melakukan hal yang di luar nalar algoritma, Pati Geni.
Ya, ritual sukarela berdiam diri di dalam kamar yang gelap gulita, tanpa makanan, tanpa minuman, dan yang paling ekstrem—tanpa smartphone.
Bagi kaum FOMO (Fear of Missing Out), ritual ini jelas terdengar seperti hukuman penjara bawah tanah. Namun, bagi para pelaku tirakat ini, Pati Geni adalah bentuk self-healing jalur premium.
Ketika orang kota harus membayar jutaan rupiah demi kelas meditasi estetis, Santri Sememi cukup mematikan saklar lampu dan menutup gorden. Gratis, langsung masuk ke mode dark mode kehidupan yang sesungguhnya.
Tentu saja, laku spiritual ini tidak bisa dimulai begitu saja dengan modal nekat. Ada perhitungan rumit bin ribet yang melibatkan hari, tanggal, hingga pasaran Jawa.
Sebuah kontras yang menggelitik: di saat generasi sekarang sibuk mencocokkan zodiak demi mencari validasi hubungan, para pelaku Pati Geni sibuk menghitung weton hanya untuk menentukan hari terbaik buat kelaparan di dalam kegelapan.
“Dalam setiap laku spiritual, yang paling utama bukan cuma gaya-gayaan luarnya, tapi seberapa kuat Anda menahan godaan untuk tidak mengintip notifikasi WhatsApp,” ujar Ustad Muhammad Nawer, dalam versi tafsir bebas zaman now.
Beliau mengingatkan bahwa tradisi ini bukan sekadar konten aesthetic penguji nyali. Ada nilai filosofis mendalam yang harus dipahami, agar ritual ini tidak bergeser makna menjadi sekadar pingsan estetis akibat dehidrasi.
Ketika Tirakat Kuno Bertemu Generasi "Scroll"
Seiring berjalannya waktu, musuh utama Pati Geni bukan lagi godaan setan atau makhluk halus, melainkan gempuran teknologi. Bayangkan seorang pemuda zaman sekarang yang mencoba Pati Geni. Baru dua jam duduk di kegelapan, otaknya sudah berteriak.
“Apakah ada diskon kilat di e-commerce? Apakah si doi sudah bikin Instagram Story baru?"
Aura mistik yang dulu bikin bulu kuduk berdiri, kini berubah menjadi rasa sangsi. Generasi masa kini yang terbiasa serba instan mulai bertanya-tanya.
“Buat apa menyiksa diri di dalam gelap kalau kita bisa mencari kedamaian batin lewat aplikasi meditasi sambil tiduran di kasur empuk ber-AC?”
Namun di sinilah ironinya. Kegagalan kita memahami Pati Geni justru menjadi cermin retak masyarakat modern.
“Kadang manusia terlalu sibuk mencari ketenangan sampai ke Bali atau Kyoto, padahal mereka cuma butuh diam dan berhenti bertingkah konyol di media sosial,” tambah Ustad Muhammad Nawer, menyindir kita semua secara halus.
Antara Permata Spiritual atau Sekadar Gabut yang Estetis?
Pada akhirnya, Pati Geni di era modern menyisakan sebuah pertanyaan retoris yang cukup menampar: apakah tradisi ini adalah sebuah permata kebijaksanaan kuno yang gagal kita pahami, atau jangan-jangan kita saja yang sudah terlalu bebal untuk menikmatinya?
Seperti ungkapan reflektif yang sering digumamkan di sela-sela rasa lapar para pelaku tirakat:
“Pati Geni menyiratkan sejuta tanya. Apakah ritual ini permata berharga, atau kita yang sudah terlalu bodoh karena sibuk mencari jejak burung terbang di langit digital dan memancing ikan di air keruh kolom komentar netizen?”
Pati Geni akhirnya bukan lagi soal bertarung melawan kegelapan malam, melainkan sindiran keras bagi dunia yang terlampau bising. Di dunia di mana semua orang merasa harus bicara dan eksis, ternyata ada orang-orang yang memilih waras dengan cara diam, tidak makan, dan menghilang dari radar.
Sebab terkadang, dalam kegelapan total tanpa sinyal WiFi itulah, seseorang baru sadar bahwa tagihan listrik dan cicilan bulanan tetap berjalan.
Wallahu a’lamu bisshowab.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar