-->

Notification

×

Iklan

Iklan 728x90

Indeks Berita

Satu Suro dan Refleksi Gerakan: Merawat Api Perjuangan agar Tetap Menyala

Rabu, 17 Juni 2026 | 00.06.00 WIB Last Updated 2026-06-16T17:07:48Z



SURABAYA, tretan.org - Malam 1 Suro selalu memiliki tempat khusus dalam kebudayaan Jawa. Bagi sebagian masyarakat, momentum ini bukan sekadar pergantian penanggalan, tetapi waktu untuk melakukan perenungan, introspeksi, dan menata kembali arah kehidupan.


Di tengah suasana tersebut, keluarga besar Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Surabaya Raya memaknai 1 Suro sebagai ruang refleksi terhadap perjalanan gerakan mahasiswa.


Bukan sekadar seremonial, tetapi kesempatan untuk bertanya kembali: sejauh mana gerakan mahasiswa masih hadir bersama persoalan rakyat?


Menurut Ketua DPC GMNI Surabaya Raya, Ni Kadek Ayu Wardani, S.T., momentum 1 Suro menjadi pengingat bahwa perjuangan membutuhkan evaluasi terus-menerus.


“Refleksi ini menjadi ruang untuk melihat kembali apakah gerakan yang dilakukan masih memiliki hubungan kuat dengan kebutuhan masyarakat,” menjadi salah satu gagasan utama yang disampaikan dalam refleksi tersebut.


Mengkritisi Jarak antara Gerakan dan Realitas Sosial


Dalam pandangan GMNI Surabaya Raya, tantangan gerakan mahasiswa saat ini adalah bagaimana menjaga agar aktivitas intelektual tidak berhenti pada ruang diskusi.


Gerakan mahasiswa dinilai perlu terus membangun hubungan nyata dengan masyarakat, terutama kelompok yang menghadapi persoalan sosial ekonomi seperti buruh, petani, nelayan, dan kelompok masyarakat rentan.


Kritik terhadap kondisi tersebut muncul melalui istilah “pabrik yang putus”.


Sebuah gambaran tentang gerakan yang memiliki banyak aktivitas, gagasan, dan energi, tetapi masih perlu memperkuat hubungan antara pemikiran dan tindakan nyata.


“Gerakan harus mampu menghadirkan manfaat, bukan hanya menghasilkan perdebatan,” menjadi pesan yang ditekankan dalam refleksi tersebut.


Bagi GMNI Surabaya Raya, mahasiswa tidak hanya dituntut memiliki kemampuan akademik, tetapi juga kepekaan membaca realitas sosial di sekitarnya.


1 Suro sebagai Ruwatan Kesadaran


Dalam tradisi Jawa, 1 Suro sering dikaitkan dengan suasana hening, perenungan, dan laku batin.


Nilai tersebut kemudian dimaknai secara sosial sebagai ajakan membersihkan diri dari ego, memperbaiki niat, dan memperkuat komitmen perjuangan.


Dalam konteks gerakan, ruwatan dipahami bukan hanya sebagai simbol budaya, tetapi sebagai upaya membangun kesadaran baru.


Bagi aktivis, bentuk “tirakat” dapat dimaknai sebagai kesediaan untuk mendengar lebih banyak persoalan masyarakat sebelum mengambil sikap.


Sebab, perjuangan sosial tidak hanya membutuhkan keberanian bersuara, tetapi juga kemampuan memahami suara yang sering tidak terdengar.


Dari Aktivisme Simbolik Menuju Pengabdian Nyata


Momentum 1 Suro juga dikaitkan dengan semangat hijrah atau perubahan.

Perubahan yang dimaksud bukan hanya perpindahan tempat, tetapi perubahan cara berpikir dan cara bertindak.


Dalam perspektif GMNI Surabaya Raya, mahasiswa perlu melakukan transformasi dari aktivisme yang hanya berpusat pada simbol menuju gerakan yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.


Perjuangan, menurut pandangan tersebut, tidak cukup hanya dilakukan melalui forum dan wacana, tetapi juga melalui keterlibatan langsung dengan persoalan sosial.


Mendengar cerita masyarakat, memahami kebutuhan mereka, serta ikut mencari jalan keluar menjadi bagian dari proses pengabdian.


Menjaga Warisan Ideologi dan Nilai Kebangsaan


Refleksi 1 Suro juga menjadi momentum untuk mengingat kembali nilai-nilai kebangsaan yang menjadi dasar perjalanan bangsa.


GMNI sebagai organisasi yang lahir dari tradisi Marhaenisme menempatkan nilai perjuangan rakyat, kemandirian bangsa, dan keadilan sosial sebagai bagian penting dalam identitas organisasinya.


Namun menjaga nilai perjuangan tidak hanya cukup melalui slogan.

Diperlukan konsistensi, pembelajaran, serta keberanian melakukan evaluasi terhadap diri sendiri.


Sebab sebuah gerakan akan tetap hidup ketika mampu membaca perubahan zaman tanpa kehilangan prinsip dasarnya.


Api Perjuangan yang Harus Terus Dirawat


Surabaya sebagai kota yang memiliki sejarah panjang perjuangan menjadi ruang simbolik bagi gerakan mahasiswa.

Di kota ini, semangat keberanian generasi sebelumnya menjadi bagian dari ingatan kolektif.


Melalui refleksi 1 Suro, GMNI Surabaya Raya mengajak kader dan mahasiswa untuk kembali memperkuat hubungan antara gagasan, tindakan, dan kepedulian sosial.


Karena perjuangan bukan hanya tentang seberapa keras seseorang berbicara, tetapi seberapa jauh langkahnya memberi arti.

Pada akhirnya, 1 Suro bukan hanya tentang pergantian waktu.


Ia adalah pengingat bahwa setiap generasi memiliki tanggung jawab untuk menjaga nilai, memperbaiki diri, dan memastikan api kepedulian terhadap rakyat tidak pernah padam.


Oleh: Tri Prakoso, SH., MHP. 

(Peneliti Yayasan Satria Merah Jambu)

Tidak ada komentar:

×
Berita Terbaru Update