SURABAYA, tretan.org – Momentum Malam Satu Suro tahun 2026 kembali menjadi perhatian masyarakat sebagai bagian dari tradisi budaya Jawa yang bertepatan dengan Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah.
Malam Satu Suro yang jatuh pada Selasa, 16 Juni 2026, masih diperingati oleh sebagian masyarakat dengan berbagai bentuk kegiatan sesuai tradisi dan pemahaman masing-masing.
Secara sejarah, penanggalan Jawa memiliki keterkaitan dengan penyatuan kalender Saka dan Hijriah pada masa Sultan Agung dari Kerajaan Mataram pada 1633 Masehi. Langkah tersebut dilakukan untuk menyelaraskan sistem penanggalan kerajaan dengan kalender Islam.
Sementara itu, dalam sejarah Islam, bulan Muharam menjadi salah satu bulan penting dalam kalender Hijriah yang berkaitan dengan peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah.
Kontributor budaya Eko Gagak dalam tulisannya menilai bahwa perkembangan zaman turut memengaruhi cara masyarakat memaknai Satu Suro.
Menurutnya, tradisi tersebut tidak hanya dipandang sebagai ritual, tetapi juga dapat dimaknai sebagai momentum introspeksi diri dan memperbaiki kualitas kehidupan.
“Pada akhirnya, terlepas dari apakah Malam Satu Suro masih sakral atau tidak, yang terpenting adalah bagaimana memaknainya,” tulis Eko Gagak.
Ia menyebut nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi tersebut dapat menjadi pengingat tentang hubungan manusia, alam, dan Tuhan Yang Maha Esa.
Dalam perkembangannya, sebagian masyarakat tetap mempertahankan tradisi lama, sementara generasi muda cenderung menyesuaikan bentuk perayaan dengan kondisi zaman.
Perbedaan cara pandang tersebut membuat tradisi Satu Suro terus mengalami dinamika. Sebagian masyarakat melihatnya sebagai warisan budaya, sementara sebagian lainnya memilih memahami momentum tersebut melalui pendekatan yang lebih rasional.
Eko Gagak juga mengingatkan bahwa momentum pergantian tahun Hijriah dapat menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk melakukan evaluasi diri.
“Selamat Tahun Baru 1448 H/2026 M,” tulisnya.
Hingga kini, Malam Satu Suro tetap menjadi bagian dari perjalanan budaya masyarakat Jawa yang terus berkembang mengikuti perubahan sosial.
Kontributor : Eko Gagak

Tidak ada komentar:
Posting Komentar