-->

Notification

×

Iklan

Iklan 728x90

Indeks Berita

Jalan Welas Asih Satria Merah Jambu dalam Kosmologi Nusantara

Kamis, 02 Juli 2026 | 04.43.00 WIB Last Updated 2026-07-01T21:43:15Z



SURABAYA, TRETAN.org - Asap dupa mengepul perlahan dari mulut Goa Lawah Klungkung mengiringi ribuan kelelawar yang bergantung sunyi pada dinding batu sakral Bali pagi ini.


​Sementara itu ratusan kilometer ke arah barat puncak Gunung Galunggung berdiri kokoh menyimpan barisan naskah abadi amanat suci para resi Sunda masa silam.


​Dua tempat suci lintas pulau tersebut kini mempertemukan sebuah ikatan batin kultural yang mengajarkan manusia untuk merawat dunia bukan demi menaklukkan sesama.


​Simbol Keberanian yang Lembut


​Yayasan Satria Merah Jambu menegaskan makna filosofis warna merah jambu sebagai perpaduan harmonis antara keberanian membara dan kesucian batin yang sangat tulus.


​Merah melambangkan energi kehidupan yang menyala sedangkan putih memantulkan ketulusan rasa tanpa pamrih ego pribadi di tengah hiruk pikuk peradaban dunia.


​Sosok kesatria mistik Nusantara ini hadir menawarkan jawaban nyata atas kegelisahan zaman modern yang mendidik manusia bertindak keras mengejar ambisi kekuasaan semata.


​"Kemenangan tertinggi seorang manusia sejati bukanlah saat mengalahkan orang lain melainkan ketika mampu menundukkan pamrih pribadi di dalam lubuk hatinya sendiri."

 

​Prinsip dasar kesatriaan sepi ing pamrih rame ing gawe menuntut tindakan nyata menolong sesama makhluk hidup tanpa mengharapkan pujian publik media sosial.


​Rahim Bumi dan Puncak Semesta


​Goa Lawah laksana rahim kosmis yang memaksa setiap pengunjung menanggalkan seluruh topeng jabatan sosial demi menghadapi kesunyian spiritual diri yang paling mendalam.


​Para perempuan Bali menata rapi persembahan canang beraneka warna lambang penghormatan tulus kepada orientasi arah mata angin penjaga keseimbangan seluruh jagat raya.


​Arah tenggara di bawah naungan Dewa Maheswara mempertemukan terang fajar pengetahuan timur dan kedalaman rasa samudra selatan yang menuntun langkah kehidupan batin.


​Kehadiran figur dewi kemakmuran Lakshmi turut memberikan pelajaran berharga bahwa rezeki sejati harus terus mengalir memberikan berkah kesejahteraan sosial bagi lingkungan sekitar.


​Spiritualitas Nusantara sejati tidak berhenti pada ritual dupa belaka tetapi wajib termanifestasi menjadi pembelaan nyata kaum lemah yang menderita di tengah masyarakat.


​Amanat Agung Darmasiksa


​Beralih ke tanah Pasundan naskah kuno Kropak Galunggung warisan Prabu Darmasiksa abad ke-12 terus mendengungkan hukum sejarah tentang asal usul keberadaan manusia.


​Ajaran luhur tersebut mengingatkan generasi sekarang agar menjaga kabuyutan pusat moral bangsa dari keserakahan eksploitasi materi yang merusak tatanan alam lingkungan kita.


​Puncak ritual karesian Galunggung sejatinya membimbing para pencari kebijaksanaan untuk memperhalus budi pekerti luhur bukan sekadar mencari kesaktian supranatural yang semu.


​Manusia utama senantiasa menyadari batas diri menghormati warisan leluhur serta menjadikan pengetahuan luas sebagai sarana pengabdian tulus demi keadilan sosial seluruh rakyat.


​Pada akhirnya Goa Lawah dan Gunung Galunggung berdiri sakral memanggil kita kembali menjadi penjaga keseimbangan semesta melalui cinta hening tanpa pamrih.


Oleh : Yayasan Satria Merah Jambu

Tidak ada komentar:

×
Berita Terbaru Update